Kabar NasionalTokoh Muslim

Ahli Filologi Islam Ungkap Jejak Ulama Besar Madinah di Tasikmalaya


HIDAYATUNA.COM, Jakarta – Dalam khazanah intelektual Islam di Nusantara, sejak puluhan tahun silam Madinah dan Nusantara memiliki hubungan yang Istimewa. Baru baru ini, seorang ahli filologi Islam, Ahmad Ginanjar Sya’ban mengungkap hubungan intelektual dua kawasan tersebut.

Ginanjar Sya’ban menjelaskan perihal jejak ulama besar Madinah dan Mursyid Tarekat Tijaniyah di Tasikmalaya. Kitab “Misykât al-Anwâr fî Sîrah al-Nabî al-Mukhtâr” karya Syaikh ‘Alî b. Abdullâh al-Thayyib al-Azharî adalah salah satu dari sekian banyak ‘saksi sejarah’ hubungan intelektual ulama Madinah dengan Nusantara.

Menurut Ginanjar, Syaikh ‘Alî b. ‘Abdullâh al-Thayyib al-Azharî al-Madanî (w. 1940 M/1359 H), merupakan seorang ulama besar Madinah al-Munawwarah yang pernah lama menetap di Tatar Sunda di usia tuanya.

“Kitab ini (Misykât al-Anwâr) ditulis dalam dua bahasa, yaitu bahasa Arab dan Melayu aksara Arab (Jawi), berisi kajian biografi Nabi Muhammad SAW (siroh nabawiah). Dalam kolofon, disebutkan kitab ini diselesaikan pada bulan Ramadhan tahun 1341 (bertepatan dengan April 1923) di Tasikmalaya, Jawa Barat,” ungkap Ginanjar dalam unggahan di akun Facebooknya dikutip Hidayatuna.com, Sabtu (4/7/2020).

Keterangan pada sampul kitab menginformasikan jika kita tersebut dicetak oleh percetakan milik Haji Sobari di Tasikmalaya, sekaligus dijual dan didistribusikan oleh al-Maktabah al-Mishriyyah milik Syaikh ‘Abdullâh b. ‘Afîf yang berbasis di Cirebon.

“Saya menjumpai naskah asli kitab ini dengan tahun cetak di atas (1923 M/1341 H) di rumah al-Fadhil Kiyai Ahmad Muhibbuddin Mu’thi Abdul Mu’ty, keluarga pengasuh pesantren Nurul Fata, Cikondang, Sukabumi, yang banyak menyimpan naskah kitab-kitab tua ulama Sunda,” ujar Ginanjar.

Selain isi kandungan kitab “Misykât al-Anwâr” yang memuat kajian sejarah hidup Nabi Muhammad, Ginanjar melihat ada aspek sosio-historis yang melatar belakangi keberadaan kitab tersebut yang kiranhya menarik untuk dikaji lebih lanjut.

Baca Juga :  Kisah Dinda Hauw dan Rey Mbayang Taaruf Hingga Menikah Bikin Netizen Baper

“Kitab “Misykât al-Anwâr” ditulis di Tasikmalaya, dalam dua bahasa (Arab dan Melayu Jawi), yang mana penulisnya adalah Syaikh ‘Alî b. ‘Abdillâh al-Thayyib al-Azharî, yaitu seorang ulama besar dari Madinah al-Munawwarah di Hijaz yang juga pejabat lembaga kemuftian madzhab Syafi’I,” sambungnya.

Lembaga kemuftian, kata Ginanjar adalah sebuah lembaga yang memiliki otoritas resmi untuk mengeluarkan keputusan-keputusan hukum-yuridis (fikih) agama Islam. Selain itu, Syaikh ‘Alî b. ‘Abdullâh al-Thayyib al-Azharî juga tercatat sebagai tokoh penting dalam sejarah persebaran Tarekat Tijaniyah di Nusantara, khususnya di Tatar Sunda.

“Dalam bukunya “Sejarah Pesantren; Jejak, Penyebaran, dan Jaringanya di Wilayah Priangan” (hal. 265), Dr. Ading Kusdiana menyebutkan Tarekat Tijaniyyah di Nusantara mulai berkembang di Nusantara secara signifikan pasca datangnya Syaikh ‘Alî b. ‘Abdullâh al-Thayyib al-Azharî ke Hindia Belanda pada tahun 1920-an,” ungkap pria yang banyak mengkaji manuskrip Islam Nusantara.

Ia menjelaskan, saat itu, ada banyak ulama Jawa Barat yang datang untuk menjumpai Syaikh ‘Alî b. ‘Abdullâh al-Thayyib al-Azharî, di antaranya adalah KH. R. Muhammad Nuh (Cianjur), KH. Ahmad Sanusi Gunungpuyuh (Sukabumi), KH. Syuja’i Kudang (Tasikmalaya), KH. Usman Domiri (Bandung), KH. Badruzzaman Biru (Garut), KH. Abbas Buntet (Cirebon) dan lain-lain. (MK/Hidayatuna)

Tags

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close