Agama dan Moralitas Sosial

 Agama dan Moralitas Sosial

Puasa dan Laku Diri (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM – Agama merupakan tongkat petunjuk jalan bagi manusia yang buta pada nilai-nilai moral dan norma-norma agama. Ketika manusia itu berpegang pada agama, maka ia akan senantiasa berada pada jalan kebaikan dan kebenaran.

Seiring berjalannya waktu, benih-benih perubahan selalu saja muncul, menuntut manusia untuk senantiasa siap beradaptasi. Namun, perubahan yang begitu cepat menerobos seluruh aspek kehidupan masyarakat terkadang menjadi suatu hal yang tidak terkendali. Akibatnya, ketidakcermatan dalam memfilter segala perubahan yang terjadi, mengakibatkan adanya ketimpangan sosial di tengah masyarakat.

Agama dan moralitas juga tak luput dari perubahan. Contohnya saja, degradasi moral yang sering menghantui para remaja, akibat westernisasi yang terus-menerus menghujam. Sehingga, tingkat kereligiusan semakin menurun dan berdampak pada merosotnya akhlak (moral).

Moralitas ialah unsur penting yang harus ada dalam kepribadian setiap insan. Dimana moral menjadi tonggak penilaian standart baik buruknya seseorang. Status individu sebagai anggota dalam sebuah kelompok sosial, perilaku bermoral akan sangat diperlukan demi mewujudkan kehidupan damai yang penuh dengan keteraturan, ketertiban, juga keharmonisan.

Setiap agama pasti mengajarkan kebaikan. Termasuk di dalamnya mengajarkan tentang hubungan bermasyarakat. Ketika manusia berinteraksi haruslah dibubuhi dengan sikap saling menghormati, saling menghargai, ataupun toleransi.

Relasi Agama dan Moralitas dalam Realita

Relasi antara agama dan moralitas sangatlah erat karena setiap agama pasti mengandung sebuah ajaran moral. Melalui agama, kehidupan akan lebih mudah dipahami, sebab agama menunjukkan dan menjelaskan nilai-nilai yang sangat berguna bagi pengalaman manusia.

Banyak muncul anggapan bahwa hanya orang yang bergama-lah yang mampu menunjukkan sikap yang bermoral. Artinya, semakin ia taat beragama, maka semakin bermorallah ia. Tapi semakin ia jauh dari agama, maka semakin rusak lah ia. Di samping itu, tidak sedikit juga anggapan bahwa tanpa harus beragama, seseorang akan dapat menunjukkan perilaku bermoralnya.

Dalam hal ini, moralitas juga dapat didasarkan pada logika akal sehat atau nalar sosial untuk tidak menyakiti seseorang yang lain. Sehingga, dalam realitas kehidupan dijumpai orang-orang yang baik secara moral, tapi nyatanya ia tidak taat dengan agamanya.

Munculnya pernyataan seperti “buat apa salat, jika perilakunya saja buruk”. Pernyataan semacam itu, menurut Sudrajat, dikatakan sebagai orang yang saleh secara individual, tapi tidak saleh secara sosial (Sudrajat, 2015:4). Atau pandangan mengenai wanita berpakaian minim, bahwa setiap orang mungkin akan setuju atau tidak setuju, jika dikatakan bahwa wanita itu tidak bermoral. Maka hal itu, akan banyak memunculkan berbagai pendapat yang bisa menuai perdebatan.

Ketika agama dipaksa menjadi acuan dasar moralitas, terutama dalam lingkungan masnyarakat, maka perdebatan itu akan susah dihentikan. Perlu ditekankan bahwa agama itu sifatnya suci dan absolut, dimana standart nilai yang telah ditetapkan tidak boleh digugat.

Mewujudkan Nilai-Nilai Agama dan Moral dalam Keteladanan Nabi Muhammad

Lantas, bagaimana seharusnya yang baik? Dalam wilayah agama, nilai moral dirumuskan dalam bentuk perintah agama maupun larangan agama, termasuk agama Islam. Islam berupaya membentuk kepribadian muslim yang sesuai dengan alquran dan as-Sunnah. Nabi Muhammad saw. sendiri telah mengajarkan kita bagaimana cara untuk beriman, beramal, serta berakhlak mulia yang sesuai dengan ajaran Islam.

Artinya adalah bagaimana kita harus mewujudkan perilaku moral sebagai cerminan dari ajaran agama, yakni mengamalkan nilai-nilai Islam ke dalam kehidupan sosial. Sehingga, dapat terwujud hubungan harmonis antara manusia dengan Allah, manusia dengan manusia, serta manusia dengan alam semesta. Jadi, kedekatan kita kepada Sang Pencipta itulah yang akan termanifestasikan dalam berbagai sikap dan perilaku yang terpuji, sehingga bisa memberikan manfaat terhadap semua.

Misalnya, nilai ketundukan kepada Allah swt. direalisasikan dalam wujud menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Kemudian nilai mengagungkan kebesaran Allah swt. direalisasikan dalam wujud sikap rendah hati, tidak sombong, tidak menentang-Nya, juga tidak meremehkan orang lain. Serta, nilai berserah diri kepada Allah swt. direalisasikan dalam wujud sikap sabar dan tawakal.

Oleh karena itu, dengan pribadi dan potensi moral yang baik, maka seseorang akan dapat bermanfaat bagi kehidupan sekitarnya, seperti yang disampaikan oleh Rasulullah saw. “bahwa sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia yang lain”.

 

Nurul Maulida

Mahasiswa Aqidah Filsafat Islam UIN Sunan Ampel Surabaya

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

20 − 15 =