Adzan Terakhir Sang Muadzin Rasulullah

 Adzan Terakhir Sang Muadzin Rasulullah

Adzan Terakhir Sang Muadzin Rasulullah (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM, Yogyakarta – Pada tahun 639 M, wabah mengerikan menyerang Syria dan sekitar dua puluh lima ribu orang meninggal akibat wabah ganas itu.

Berita wabah ganas itu mengganggu Khalifah Umar bin Khattab R.A. di Madinah.

Ia pergi meninggalkan Madinah untuk melakukan safari ke Syria dan melakukan apa yang bisa membantu orang-orang yang masih hidup. dengan segala cara.

Perjalanan menuju Syria melewati kota Kristen Ayla. Beliau mengendarai unta dengan di- sertai beberapa pengikut.

Agar identitas Umar tidak diketahui, beliau berganti tempat dengan pembantunya.

Penduduk Ayla yang antusias ingin melihat Umar berbondong-bondong ke jalan dan bertanya-tanya,

“Di manakah Umar bin Khattab?”

“Ini dia di depan kalian,” jawab Umar dengan maksud ganda.

Unta khalifah berjalan pelan dan kerumunan massa bergegas membuntutinya, karena mereka pikir Umar masih berada di atas unta itu.

Khalifah Umar menyelinap ke rumah seorang pendeta selama siang hari yang panas itu.

Jubah yang dipakai Umar banyak yang sobek karena perjalanan yang berat dan ia berikan kepada tuan rumah. untuk diperbaiki.

Si pendeta menjahitnya kembali dan sembari mengembalikan jubah Umar, ia menawarkan satu jubah baru yang cocok untuk cuaca yang panas.

Dengan mengucapkan terima kasih, khalifah Umar menolak pem- berian itu dan lebih suka memakai jubahnya sendiri.

Bilal bin Rabbah yang terkenal sebagai muazzin Rasulullah. waktu itu tinggal di Syria.

Setelah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam meninggal, ia menolak tugas sebagai muadzin dan menyerahkannya kepada orang lain.

Beberapa tahun kemudian ia turut serta dalam ekspedisi militer ke Syria dan menghabiskan masa tuanya di sana.

Pada malam keberangkatan Umar meninggalkan Syria, penguasa kota Damaskus menyarankan bahwa pada kesempatan terakhir ini, sebaiknya Bilal diminta untuk mengumandangkan adzan.

Sahabat Rasulullah yang telah lanjut usia itu memenuhi permintaan mereka dan dari puncak menara masjid, suara yang sudah familiar itu mengumandang dengan merdu dan keras.

Teringat masa-masa shalat berjamaah bersama Rasulullah, para jamaah yang hadir larut dalam isak tangis.

Bahkan pasukan muslim dengan Umar sebagai panglimanya tenggelam dalam isak tangis.

Dua tahun setelah Bilal bin Rabbah mengumandangkan adzan yang pertama dan terakhir pasca wafatnya Rasulullah , sang muadzin agung itu meninggal dunia.

Dan suara indah Bilal bin Rabbah yang melegenda akan selalu dikenang hingga saat ini. []

Muhammad Ahsan Rasyid

Muhammad Ahsan Rasyid, magister BSA UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang juga aktif di berbagai organisasi dan kegiatan sukarelawan. Tinggal di Yogyakarta, dapat disapa melalui Email: rasyid.ahsan.ra@gmail.com.

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *