Abu Musa Al-Asy’ari, Sang Penguasa Bashrah

 Abu Musa Al-Asy’ari, Sang Penguasa Bashrah

(Ilustrasi/Hidayatuna)

Digiqole ad

HIDAYATUNA.COM – Rasulullah SAW memiliki seseorang yang amat dipercaya dan disayangi para khalifah dan sahabat-sahabat Beliau. Dia adalah Abu Musa Al-Asy’ari.

Rasulullah Saw semasa hidupnya mengangkat Abu Musa Al-Asy’ari bersama Mu’adz bin Jabal sebagai penguasa di Yaman. Pasca Rasulullah wafat, Abu Musa Al-Asy’ari kembali ke Madinah.

Kembalinya Abu Musa Al-Asy’ari ke Madinah ialah untuk memikul tanggung jawab dalam jihad besar. Jihad yang sedang dijalani oleh tentara Islam melawan Persia dan Romawi.

Kemudian pada pemerintahan Umar bin Al-Khathab, ia diangkat sebagai gubernur. Di Bashrah, Abu Musa Al-Asy’ari mengumpulkan para penduduk, dan berpidato di hadapan mereka.

“Sesungguhnya Amirul Mukminin Umar bin Al-Khathab telah mengirimku kepada kamu sekalian. Agar aku mengajarkan kepada kalian kitab Allah dan Sunnah Nabi kalian, serta membersihkan jalan hidup kalian!”

Orang-orang heran dan bertanya-tanya. Mereka mengerti apa yang dimaksud dengan mendidik dan mengajari mereka tentang agama, yang memang kewajiban gubernur dan panglima. Tetapi bahwa tugas gubernur itu juga membersihkan jalan hidup mereka, hal ini memang amat mengherankan dan menjadi suatu tanda tanya.

***

Mengenai dirinya, dikutip dari Republika.co.id, Hasan Al-Bashri pernah berkata: “Tak seorang pengendara pun yang datang ke Bashrah yang lebih berjasa kepada penduduknya selain dia!”

Sedangkan Khalifah Utsman bin Affan menunjuknya sebagai gubernur di Kufah.

Abu Musa termasuk ahli Alquran; menghapal, mendalami dan mengamalkannya. Di antara ucapan-ucapannya yang memberikan bimbingan mengenai Alquran itu ialah, “Ikutilah Alquran… dan jangan kalian berharap akan diikuti oleh Alquran!”

Ia juga termasuk ahli ibadah yang tabah. Pada waktu siang di musim panas—yang panasnya menyesakkan nafas—tidak menghalanginya untuk berpuasa. “Semoga rasa haus di terik siang ini akan menjadi pelepas dahaga bagi kita di hari kiamat nanti,” ujarnya.

Di hari yang cerah, ajal pun menjemputnya. Wajahnya menyinarkan cahaya cemerlang, wajah seorang yang mengharapkan rahmat dan pahala Allah. Kalimat yang selalu diulang-ulang dan menjadi buah bibirnya sepanjang hayatnya adalah kalimat yang juga menjadi buah bibirnya ketika menghadap Ilahi. “Ya Allah, Engkaulah Maha Penyelamat, dan dari-Mulah kumohon keselamatan.”

 

Sumber : Republika

Redaksi

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

3 × 5 =