Abdullah bin Ubay dan Larangan Mensalati Orang Munafik

Digiqole ad

HIDAYATUNA.COM, Yogyakarta – Abdullah bin Ubay bin Salul adalah orang terpandang di Madinah. Andai saja Kanjeng Nabi Saw tidak datang ke Madinah, tentulah dia yang akan muncul sebagai pemimpin utama di antara kabilah-kabilah Madinah.

Hadirnya Kanjeng Nabi Saw pelan demi pelan menggeser pengaruh Abdullah bin Ubay. Atas kondisi tersebut, ia diam-diam memusuhi Kanjeng Nabi Saw. Musuh dalam selimut, seselimut tapi memusuhi.

Putranya adalah salah satu sahabat Kanjeng Nabi Saw. Beliau Saw sangat menyayangi putra Abdullah bin Ubay itu.

Di antara wujudnya ialah dengan selalu menjaga hubungan agar baik-baik saja dengan Abdullah bin Ubay pula. Walaupun musuh dalam selimut, seselimut tapi memusuhi.

Tatkala Abdullah bin Ubay meninggal, putranya memohon kepada Kanjeng Nabi Saw agar menghadiahkan serbannya untuk dijadikan selimut bagi jenazah. Kanjeng Nabi Saw pun menghadiahkannya.

Lebih lanjut, putra almarhum memohon Kanjeng Nabi Saw berkenan mensalati dan mendoakan almarhum. Kanjeng Nabi Saw pun bangun.

Sayyidina Umar mengingatkan Kanjeng Nabi Saw sampai memegang baju beliau Saw agar tidak melakukan hal itu. Ayat 80 dari surat at-Taubah jadi rujukan Sayyidina Umar.

Kanjeng Nabi Saw menjawab kepada Sayyidina Umar, “Aku akan beristighfar kepadanya lebih dari 70 kali….”

Larangan Mensalati Orang Munafik dalam Alquran

Dalam surat al-Munafiqun ayat 6 yang isinya sekandung dengan at-Taubah 80, kiranya dipahami oleh Kanjeng Nabi Saw bukan sebagai larangan mutlak.

Sikap beliau Saw yang mengatakan hendak mengirimkan bacaan istighafar lebih dari 70 kali kepada almarhum. Bersumber dari agungnya kasih sayang dan welas asih beliau Saw kepada siapa pun, termasuk Abdullah bin Ubay. Serta wujud penghormatan dan kasih sayang kepada putranya yang memohonkan hal tersebut kepada beliau Saw.

Kanjeng Nabi Saw pun menshalatinya memenuhi permohonan putranya. Rupanya, langkah dan pemahaman Kanjeng Nabi Saw dalam hal ini tidak diijinkan oleh Allah SWT.

Maka diturunkanlah ayat 84 dari at-Taubah yang terang-terang melarang Kanjeng Nabi Saw (dan umat mukmin) untuk mensalati dan mendoakan kaum begituan (dengan momen khusus melalui wafatnya Abdullah bin Ubay).

Atas dasar itulah, tak kurang dari mufassir besar senacam Rasyid Ridha, apalagi Sayyid Quthub, menyatakan tegas keharaman mensalatkan dan mendoakan orang-orang yang munafik dan kafir. Bahkan Ibnu ‘Asyur yang biasanya sangat kontekstualis dalam takwil-takwilnya juga mengamini sikap begitu.

Takwil Prof. Quraish Shihab tentang Mendatangi Jenazah Orang Munafik

Buat saya yang menarik sekali ialah pandangan tafsir Prof. Quraish Shihab di sini. Kalian akan terkesima oleh kedetailan dan kedalamannya membaca ayat, dalil, khazanah, dan konteks kekinian-kekitaan. Terkesima belum?

Beliau di satu sisi mengamini pandangan tersebut. Inilah bukti berpegang teguhnya Prof. Quraish Shihab dalam menakwil kepada pandangan umum, jumhur, dan konteks turunnya ayat, serta dalam banyak contoh. Ini ialah ketakdhiman beliau kepada pengertian teks asali.

Lalu, meneruskan dengan menukil hadis riwayat Imam Bukhari yang cukup terkenal. Kanjeng Nabi Saw berdiri ketika ada jenazah Yahudi lewat. Sahabat bertanya dengan perasaan ganjil, mengapa Engkau berdiri kepadanya, bukankah dia Yahudi? Beliau Saw menjawab: bukankah dia juga manusia?

Prof. Quraish lalu berargumen di sisi lainnya bahwa riwayat hadis tersebut dapat dipahami sebagai kebolehan bagi seorang mukmin untuk menghadiri prosesi pemakaman orang yang tidak beriman sekalipun. Kemudian mengunjungi kuburannya untuk suatu keperluan dan sebagainya, dengan tidak perlu melakukan salat dan doa khusus kepadanya.

Tidak melakukan salat dan doa kepada almarhum dimaksudkan sebagai kepatuhan seorang mukmin kepada perintah Allah SWT. sesuai ayat 84 at-Taubah itu. Toh, sangat jelas teksnya jikapun seseorang melakukannya, maka amaliah tersebut tidak ada nilainya di mata Allah Swt. justru dikhawatirkan menjadi pelencengan bagi kepatuhan rohani tadi.

Adapun ikut turut menghadiri prosesi penguburannya, atau menghadiri acara ziarah, dan sejenisnya, semata dimaksudkan sebagai amal maslahat lahiriah sosial antarsesama manusia (mungkin setetanggaan atau sesahabatan). Hal ini dulu juga dilakukan oleh Kanjeng Nabi Saw berdasar hadis Bukhari tadi.

Sikap ini kiranya logis dan patut untuk kita terima pada arah maslahat relasi sosial majemuk kita. Di waktu yang sama, ia tidak melaju melampaui batas apa pun pada arah keterangan dalil-dalil, seperti at-Taubah 84 tersebut.

Edi AH Iyubenu

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

4 × 5 =