Abdullah bin Rawahah, Syair Cinta Rasulullah

 Abdullah bin Rawahah, Syair Cinta Rasulullah

Mengenal Kisah Sahabat Nabi Muhammad: Abu ‘Ubaidah bin Jarrah

HIDAYATUNA.COM –  Abdullah bin Rawahah adalah seorang terpilih dalam peristiwa Baiat Aqabah, seorang pahlawan pemberani di medan perang yang dialami kaum muslimin melawan kaum kafir, salah seorang dari ketiga komandan perang Mu’tah dan seorang penyair yang bersuara lembut dan memiliki kekuatan yang meruntuhkan lawan-lawannya.

Abdullah bin Rawahah atau yang sering dikenal dengan Abu Muhammad memiliki nama lengkap Abdullah bin Rawahah bin Tsa’labah Al-Anshari Al-Khazraji, ia merupakan paman dari sabahat besar Nu’man bin Basyir. Abu Muhammad merupakan salah satu dari dua belas pemimpin setelah tercapainya Bai’at ‘Aqabah II.

Ia lahir dan dibesarkan di kota Yastrib. Sesudah dewasa, pikirannya selalu mengembara mencari hakikat. Begitu mendengar cerita orang tentang Muhammad, ia tergolong delegasi pertama yang menuju Mekkah untuk mengetahui hakikat yang dibawa oleh agama baru itu.

Setelah tercapainya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam meminta kepada kaum Anshar untuk memilih 12 orang di antara mereka sebagai pemimpin kaum mereka. Kedua belas orang inilah yang nantinya akan bertanggung jawab untuk merealisasikan butir-butir yang tertera dalam bai’at Aqobah II. Pada saat itu terpilih dua belas orang pemimpin, sembilan orang dari suku Khazraj dan tiga orang dari suku Al-Aus.

Saat Nabi hijrah ke Madinah, ia adalah orang yang mula-mula menyambut kedatangan Beliau. Ia menuntun kendaraan beliau dan berkata, “Kemarilah, wahai Rasulullah, Anda akan mendapat penghormatan dan perlindungan.” Suatu hari, Nabi melintas di depan majlis Abdullah bin Ubah, pemimpin orang-orang munafik. Beliau duduk di majlis tersebut dan membaca Al Quran.

Ibnu Ubay mengatakan kepada Nabi, “Hei, lebih baik kamu tinggal di rumahmu saja daripada kamu membaca Al Quran di sini. Jika ada orang yang datang kepadamu, maka sampaikanlah Al Quran itu kepada mereka, tapi kalau tidak ada orang yang datang kepadamu, maka janganlah kamu mendatangi majlisnya dengan apa-apa yang tidak disukainya dari kamu”.

Mendengar ucapan Ibnu Ubay ini, Abdullah bin Rawahah bangkit sambil menghunus pedangnya dan berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya apa yang Anda katakan adalah kebenaran yang tidak ada kebatilan yang datang dari arah depan dan belakangnya. Demi Allah, sesungguhnya apa yang Anda bacakan tadi adalah sesuatu yang paling aku sukai. Maka, datanglah Anda ke majlis dan rumah kami, karena bacaan Al Quran itu sesuatu yang paling kami sukai.”

Dalam perang Badar, ia menantang orang-orang Quraisy bertarung dengan senjata pedang (anggar). Saat itu ia keluar bersama dua orang Anshar Tetapi orang-orang Quraisy menolak tantangannya. Orang-orang Quraisy meminta kepada Nabi untuk mengutus petarung yang sepadan dengan mereka. Asir bin Zaram, seorang warga Yahudi, pernah mengorganisir beberapa kabilah untuk melawan Rasulullah.

Kemudian Beliau mengutus Abdullah bin Rawahah bersama beberapa orang pasukan berkuda untuk menumpas Asir bin Zaram. Mereka berhasil menumpas pasukan Asir dan membunuh, kemudian mereka kembali dan melapor kepada Rasulullah. Beliau mengatakan kepada mereka, “Allah telah menyelamatkan kalian dari kaum yang berlaku zalim.

Abdullah bin Rawahah adalah seorang penulis dan penyair ulung. Untaian syair-syairnya begitu kuat dan indah didengar. Sejak memeluk Islam, ia membaktikan kemampuan bersyairnya untuk mengabdi bagi kejayaan Islam. Rasulullah sangat menyukai dan menikmati syair-syairnya, serta serta sering menganjurkan kepadanya untuk lebih tekun lagi membuat syair.

Pada suatu hari, Rasulullah sedang duduk bersama para sahabat, tiba-tiba datanglah Abdullah bin Rawahah. Lalu Nabi bertanya kepadanya, “Apa yang kau lakukan jika hendak mengucapkan syair?”

Abdullah menjawab, “Kurenungkan dulu, kemudian baru kuucapkan.”

Ia kemudian mengucapkan syair tanpa pikir panjang. “Wahai putra Hasyim, sungguh Allah telah melebihkanmu dari seluruh manusia dan memberimu keutamaan, di mana orang lain takkan iri. Dan sungguh aku menaruk firasat baik yang kuyakini pada dirimu.

Suatu firasat yang berbeda dengan pandangan hidup mereka. Seandainya engkau bertanya dan meminta pertolongan kepada mereka untuk memecahkan persolan, tiadalah mereka hendak menjawab atau membela. Karena itu Allah mengukuhkan kebaikan dan ajaran yang engkau bawa. Sebagaimana Ia telah mengukuhkan dan memberi pertolongan kepada Musa.”

Mendengar itu, Rasulullah gembira dan ridha kepadanya. Beliau bersabda, “Dan kamu pun akan diteguhkan Allah.”

Ketika Rasulullah sedang thawaf di Baitullah pada Umrah Qadha, Abdullah bin Rawahah berada di depan beliau sambil bersyair, “Oh Tuhan, kalaulah tidak karena Engkau, niscaya kami tidaklah akan mendapat petunjuk, tidak akan bersedekah dan shalat. Maka mohon turunkan sakinah atas kami dan teguhkan pendirian kami jika musuh datang menghadang. Sesungguhnya orang-orang yang telah aniaya terhadap kami, bila mereka membuat fitnah, akan kami tolak dan kami tentang.”

Suatu ketika Abdullah bin Rawahah sangat berduka dengan turunnya ayat, “Dan para penyair, banyak pengikut mereka orang-orang sesat.” (QS Asy-Syu’ara: 224).

Namun kedukaannya terhibur dengan turunnya ayat lain “Kecuali orang-orang (penyair) yang beriman, beramal saleh, banyak ingat kepada Allah, dan menuntut bela sesudah mereka dianiaya”. (QS Asy-Syu’ara: 227).

Abdullah bin Rawahah ikut dalam perang Badar, perang Uhud, perjanjian Hudaibiyah, dan Umrah Al-Qadha. la pernah ditugaskan Nabi untuk menggantikan beliau di Madinah, karena beliau pergi ke luar kota Madinah dalam rangka untuk berperang.

Ketika kaum Muslimin terjun ke medan perang demi membela kalimat Allah, Abdullah bin Rawahah turut tampil membawa pedangnya ke medan tempur Badar, Uhud, Khandaq, Hudaibiyah, dan Khaibar. Ia menjadikan kalimat syairnya sebagai slogan perjuangan. “Wahai diri! Seandainya kamu tidak tewas terbunuh dalam perang, maka kamu akan mati juga!”

Pada waktu Perang Mu’tah, balatentara Romawi sedemikian besarnya, hampir 200.000 orang. Sementara barisan kaum Muslimin sangat sedikit. Ketika melihat besarnya pasukan musuh, salah seorang berkata, “Sebaiknya kita kirim utusan kepada Rasulullah, memberitakan jumlah musuh yang besar. Mungkin kita akan dapat bantuan tambahan pasukan, atau jika diperintahkan tetap maju maka kita patuhi.”

Namun Abdullah bin Rawahah berdiri di depan barisan pasukan Muslim. “Kawan-kawan sekalian,” teriaknya, “Demi Allah, sesungguhnya kita berperang melawan musuh-musuh kita bukan berdasarkan bilangan, kekuatan atau jumlah pasukan kita. Tapi kita memerangi mereka demi mempertahankan agama kita ini, yang dengan memeluknya, kita dimuliakan Allah. Ayo, maju! Salah satu dari dua kebaikan pasti kita raih; kemenangan atau syahid di jalan Allah.”

Dengan bersorak-sorai, kaum Muslimin yang berjumlah sedikit namun besar imannya itu menyatakan setuju. Mereka berteriak, “Sungguh, demi Allah, benar apa yang dikatakan Ibnu Rawahah!”

Perang pun berkecamuk. Pemimpin pasukan pertama, Zaid bin Haritsah gugur sebagai syahid. Demikian pula dengan pemimpin kedua, Ja’far bin Abi Thalib. Abdullah bin Rawahah kemudian meraih panji perang dari tangan Ja’far dan terus memimpin pasukan. Ia pun terus menerjang barisan tentara musuh yang menyerbu bak air. Abdullah bin Rawahah pun gugur sebagai syahid, menyusul dua sahabatnya; Zaid dan Ja’far.

Pada saat pertempuran berkecamuk dengan sengit di Balqa’, bumi Syam, Rasulullah SAW tengah berkumpul dengan para sahabat dalam suatu majelis. Tiba-tiba beliau terdiam, dan air mata menetes di pipinya. Rasulullah memandang para sahabatnya lalu berkata, “Panji perang dipegang oleh Zaid bin Haritsah, ia bertempur bersamanya  hingga gugur sebagai syahid. Kemudian diambil alih oleh Ja’far, ia bertempur dan syahid juga. Kemudian panji itu dipegang oleh Abdullah bin Rawahah dan ia bertempur, lalu gugur sebagai syahid.”

Rasulullah kemudian terdiam sebentar, sementara mata beliau masih berkaca-kaca, menyiratkan kebahagiaan, ketentraman dan kerinduan. Kemudian beliau bersabda, “Mereka bertiga diangkatkan ke tempatku di surga.”

Nabi Muhammad SAW pernah menugasinya sebagai salah satu komandan dalam perang Mu’tah. Nabi mendokan agar mereka pulang dari medan tempur dengan selamat. Ibnu Rawahah pamit kepada Nabi sambil berkata, “Wahai Rasulullah, suruhlah aku dengan sesuatu yang dapat aku hafalkan!” Beliau mengatakan, “Besok, kamu akan mendatangi wilayah yang penduduknya sedikit yang bersujud. Setelak kamu datang, mayoritas penduduknya akan bersujud.” Beliau juga berpesan “Berdzikirlah kamu mengingat Allah karena dzikir akan menjadi penolong atas apa yang kamu mohon.”

Tatkala pasukan kaum muslimin berhadapan dengan pasukarn Romawi, ia berdiri di hadapan para pasukan dan berkata, “Wahai pasukan kaum muslimin, demi Allah, kita berperang melawan mereka dengan jumlah dan persenjataan yang sangat minim; kita tidak berperang kecuali untuk menegakkan agama yang Allah telah memuliakan kita dengan Berangkatlah kalian! Sebab hal itu termasuk salah satu di antara dua kebaikan, perang melawan mereka atau gugur sebagai pahlawan syahid.”

Setelah dua panglima perang sebelumnya gugur di medan perang, Zaid dan Ja’far, ia menerima panji-setelah sebelumya ragu dan melantunkan sya’ir:

‘’Aku telah bersumpah, wahai jiwaku, kamu maju ke medan tempur atau kamu tidak menyukainya. Jika kuhimpun semua prajurit dan mereka semua lari dari medan tempur, maka aku tidak melihatmu tidak menginginkan surga. Sudah lama kamu tidak tenteram dan kamu tidak apa-apa melainkan berasal dari setetes air mani yang hina’’.

Ibnu Rawahah akhirnya tampil sebagai panglima perang dan menyerang pasukan Romawi. Pada akhirnya ia pun gugur di medan perang sebagai pahlawan syahid. Ketika perang berkecamuk, ia selalu melantunkan sya’ir:

‘’Hai jiwaku, mana yang kamu pilih mati syahid atau mati biasa? Telaga kematian telah berada di hadapanmu. Jika kamu lakukan seperti apa yang mereka berdua lakukan (Zaid dan Ja far) berarti kamu telah memperoleh petunjuk dan yang kamu cita-citakan selama ini akan tercapai’’.

Di antara hadits yang diriwayatkannya, ia berkata, “Nabi melarang seseorang mendatangi keluarganya di malam hari.” la gugur sebagai pahlawan syahid tahun 8 H.

Sumber

  • Tokoh-tokoh yang diabadikan Al-quran, Dr. Abdurrahman Umairah
  • Abdullah bin Rawahah, republika.co.id
  • Abdullah bin Rawahah, Pahlawan yang Syahid, tebuireng.online

Redaksi

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *