Abdel Kader Haidara: Pria Pemberani Penyelamat 350.000 Manuskrip Kuno

 Abdel Kader Haidara: Pria Pemberani Penyelamat 350.000 Manuskrip Kuno

Manuskrip kuno (Ist)

HIDAYATUNA.COM, Jakarta – Abdel Kader Haidara, pria yang mempertaruhkan nyawanya untuk menyelamatkan lebih dari 350.000 manuskrip kuno dari Timbuktu, Mali. Agar tidak dihancurkan oleh Al-Qaeda, demikian tulis Historical Artifacts melalui akun twitternya @ArtifactsHub_.

Kisah heroik Abdel Kader Haidara terjadi pada saat awal musim panas 2012 silam. Saat itu sebuah operasi rahasia sedang berlangsung dan Haidara memilih untuk menyelamatkan perpustakaannya. Ialah perpustakaan Mamma Haidara di Timbuktu, Mali.

Membutuhkan waktu bermalam-malam, tim di bawah arahan pendiri perpustakaan, Abdel Kader Haidara, diam-diam mengemas karya-karya kuno astronomi, puisi, sejarah, dan yurisprudensi ke dalam peti logam. Lalu membawanya keluar dari perpustakaan dengan kereta bagal dan 4×4 ke tempat aman.

“Itu adalah bagian dari upaya terakhir untuk melindungi koleksi manuskrip bersejarah paling signifikan di negara itu. Agar tidak jatuh ke tangan militan yang bersekutu dengan Al-Qaeda,” ungkap Haidara dilansir dari Nationalgeographic.com.

Selama sembilan bulan dalam kondisi traumatis, Haidara dan timnya menyelamatkan 350.000 manuskrip dari 45 perpustakaan berbeda di sekitar Timbuktu. Setelah proses pengemasan barang, ia kemudia menyembunyikan manuskrip manuskrip kuno itu di Bamako, yang jaraknya lebih dari 400 mil dari utara yang dikuasai Al-Qaeda.

Kronologi Dramatis Penyelamatan Manuskrip Kuno

Dalam misi ini, Haidara melibatkan banyak pihak salah satunya adalah keponakannya, yakni Mohammed Touré. Ia adalah seorang kurator berusia 25 tahun di perpustakaannya.

Suatu malam ketika dia meninggalkan pekerjaannya dengan membawa koper penuh manuskrip yang ditakdirkan untuk disembunyikan. Touré berhadapan dengan Oumar Ould Hamaha, salah satu pendukung fanatik Al-Qaeda.

Hamaha menyorotkan senter ke wajah Touré dan meminta dia membuka peti itu. “Dia berkata, ‘Kamu mencurinya,'” Touré mengenang suatu sore di ibu kota Mali, Bamako. “Saya berkata, ‘Tidak, ini perpustakaan saya.'”

Polisi Islam menangkap kurator dan menyeretnya ke komisariat polisi Islam. Dia didakwa dengan pencurian, kejahatan serius di bawah syariah. “Saya mengambil risiko kehilangan tangan saya, kaki saya,” kata Touré. “Mereka sudah mulai memotong tangan di tempat umum.”

Ayat Alquran dan Hadis sebagai Landasan

Berpikir cepat, Touré, yang memiliki landasan kuat dalam studi Islam, mengutip hadis dan ayat-ayat Alquran. Ayat tersebut menyatakan bahwa bukti kesalahan yang tak terbantahkan diperlukan sebelum hukuman dijatuhkan.

“Mereka berkata, ‘Buktinya ada di sana; Anda merampok perpustakaan ini.’ Saya berkata, ‘Itu milik saya, dan saya memindahkannya ke lokasi yang lebih aman.'” Dia mengulur waktu, tetapi nasibnya tidak jelas.

Pamannya mulai beraksi, setelah melarikan diri dari Timbuktu untuk tinggal di pengasingan yang dipaksakan sendiri di Bamako, Haidara mengoperasikan telepon. Ia memanggil imam, pemimpin lingkungan, dan pustakawan lainnya, yang maju dengan dokumen dan pernyataan tertulis yang membuktikan peran Touré sebagai kurator. Setelah 24 jam ditahan, polisi Islam melepaskannya.

Tapi pertikaian dengan para jihadis terus terjadi. Operator Al-Qaeda menghentikan, menggeledah, dan menangkap kurir Haidara.

Bandit menangkap perahu penuh buku di Sungai Niger dan menahannya untuk tebusan. Tentara pemerintah Mali sering membuka peti-peti berisi manuskrip untuk mencari senjata, dengan kasar mengobrak-abrik barang barang yang mudah rapuh dan lapuk tersebut.

Romandhon MK

Peminat Sejarah Pengelola @podcasttanyasejarah

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

11 − 3 =