4 Kualifikasi Agar Menghasilkan Tafsir yang Objektif

 4 Kualifikasi Agar Menghasilkan Tafsir yang Objektif

Menimbang Tafsir Israiliyat (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM – Sebagai penjelas (bayan) Alqur’an, tafsir seharusnya tidak memihak. Sebab keterpihakan tafsir terhadap aliran atau mazhab tertentu justru akan menjauhkan fungsi Alquran sebagai kitab petunjuk.

Di periode pertengahan (antara abad ke13-18 M), Alquran dikeroyok oleh beberapa penafsir Alquran dari berbagai aliran dan mazhab yang berbeda-beda. Mereka sama-sama merasa punya tanggungjawab untuk membuat Alquran berbicara sesuai dengan koteksnya.

Hal ini sesuai dengan tesis Sayyidina Ali bin Abi Thalib, “Al-Qur’an yang diapit antara dua sampul, adalah teks bisu yang harus disuarakan oleh mereka yang memiliki kualifikasi.”

Namun tak jarang Alquran dipaksa untuk berbicara sesuai dengan selera dan keyakinan sang penafsir. Produk tafsir yang dihasilkan tak ubahnya buku yang di dalamnya memperlihatkan berbagai keahlian dan kepiawaian para penafsir Alquran.

Sejarah Kelam Tafsir Alquran

Alquran dijadikan kitab legitimasi dan justifikasi keabsahan mazhab tertentu yang dianut oleh mufassir, dan menganggap bahwa mazhab lain salah. Klaim kebenaran terhadap mazhab tertentu dan menyalahkan mazhab lain cukup, serta fanatisme berlebihan terhadap imam atau mazhab tertentu sangat mewarnai pada periode pertengahan.

Tak jarang muncul ungkapan-ungkapan yang tidak sopan hingga mengkafirkan aliran lain dengan sindiran-sindiran. Akibatnya, fungsi Alquran sebagai kitab petunjuk kabur, permatanya meleleh dan airnya mengering.

Misalnya al-Zamakhsyari menyebut ulama’ Sunni dengan al-mujbirah (yang memaksa), al-hasywiyah (yang buruk), al-musyabbihah (yang rancu), dan al-qadariyah (yang percaya terhadap takdir). Bahkan orang yang percaya terhadap takdir (al-qadariyah) disebut sebagai majusi-nya umat, dan lain-lain.

Berikut misalnya ungkapan-ungkapan lain beberapa penafsir tentang fanatisme dan klaim kebenaran:

  • Ilkiya al-Harrasi, seorang pengikut mazhab Syafi’i dalam kitab tafsirnya Ahkam al-Qu’an mengatakan, “Waba’du, setelah saya merenungkan mazhab para ulama terdahulu yang dapat dipertanggungjawabkan serta mazhab ulama salaf dan khalaf, lalu mengoreksi mazhab dan pendapat-pendapat mereka, juga memperhatikan pokok pembicaraan dan pembahasan mereka, saya berpendapat bahwa mazhab Syafi’i adalah mazhab yang paling tepat, kuat dan benar.” 
  • Ibn al-‘Arabi dalam tafsirnya Ahkam al-Qur’an, ketika menafsirkan QS. al-Nisa’ ayat 3, mengemukakan tiga pendapat di antaranya dari imam Syafi’i. Di akhir kutipannya, ia mengatakan, “Semua gagasan imam Syafi’i dan sifat-sifat yang dianugerahkan kepadanya tak lain adalah sebagian dari intelektualitas dan lautan keilmuan yang dimiliki oleh imam Malik. Imam Mālik adalah orang yang tajam pendengaran dan pengetahuannya.”
  • Al-Jassas menyebutkan pendapat mazhab Syafi’i mengenai tartibnya membasuh anggota wudu. Ia mengatakan, “Pendapat ini adalah hasil pentakhrijan Syafi’i dari hasil konsensus ulama salaf dan ulama fikih.”

Dalam pandangan al-Jassas, seakan-akan pendapat Imam Syafi’i tidak dianggap sama sekali sehingga dikatakan bahwa imam Syafi’i hanya pentakhrij dari beberapa pendapat.

Kualifikasi Tafsir Alqur’an yang Objektif

Di dalam kitab al-Madrasah al-Qur’aniyyah disebutkan bahwa ada empat kualifikasi yang harus dipenuhi oleh seorang penafsir Alquran agar penafsirannya dapat dipertanggungjawabkan dan menghasilkan tafsir yang objektif.

  • Penafsir harus memiliki pemahaman yang baik tentang Alquran

Pertama, penafsir harus memiliki pemahaman yang baik tentang Alquran. Penafsiran yang ia lakukan harus didasarkan pada ketentuan-ketentuan syari’at Islam.

Penafsir harus membangun sebuah kesadaran bahwa Alquran adalah kitab ilahi yang diturunkan sebagai kitab petunjuk dan pembimbing manusia kepada kehidupan yang lebih baik. Penafsir tidak boleh tunduk dan terpengaruh oleh kondisi dimana ia hidup dan tinggal.

Syarat ini mutlak harus dimiliki seorang penafsir dalam memahami Alquran agar penafsiran yang dihasilkan tidak menyimpang.

  • Penafsir harus memiliki kemapanan dalam bahasa Arab

Kedua, penafsir harus memiliki kemapanan dalam bahasa Arab dan kaidah-kaidahnya karena Alquran diturunkan sesuai dengan kaidah-kaidah tersebut. Jika ia tidak mengetahui kaidah-kaidah umumnya, maka ia tidak akan mampu memahami makna Alquran.

Oleh sebab itu, ia harus menguasai nahwu, sharaf, ma’ani, bayan dan cabang-cabang bahasa Arab lainnya. Namun, syarat-syarat tersebut berbeda-beda, sesuai dengan kajian yang akan didalami si penafsir.

Ketika ia ingin mengkaji Alquran dari konteks hukumnya, maka  ia tidak perlu secara mendalam menguasai seluk beluk bahasa Arab. Seperti yang dibutuhkan penafsir yang ingin mengkaji kisah dalam Alquran atau majaz dalam Alquran.

  • Penafsir tidak boleh bertendensi pada pendapat mazhab tertentu

Ketiga, seorang penafsir tidak boleh bertendensi pada pendapat mazhab tertentu atau mazhab yang dianut si penafsir sendiri. Akan tetapi harus menginferensi langsung dari sumber aslinya.

Penafsir harus membebaskan pandangan dunianya dari model-model berpikir mazhabi sehingga memberikannya keluasaan dalam memahami Alquran.

  • Penafsir harus menguasai metode menafsirkan Alquran secara umum

Keempat, penafsir harus menguasai metode secara umum dalam menafsirkan Alquran, termasuk perbedaan-perbedaannya. Misalnya, jika perbedaan-perbedaan tersebut berkaitan dengan usul fikih, ilmu kalam, ilmu rijal atau yang lain.

Maka ia harus memiliki metode dan memiliki pemahaman yang memadai tentang perbedaan-perbedaan yang terjadi.

Abdul Wadud Kasful Humam

Dosen di STAI Al-Anwar Sarang-Rembang

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *