3 Kondisi yang Dibolehkan Rasulullah Untuk Berbohong

 3 Kondisi yang Dibolehkan Rasulullah Untuk Berbohong

Berbohong

Digiqole ad

HIDAYATUNA.COM – Islam hadir di tengah-tengah kita dengan membawa ajaran yang baik dan akan mengarahkan umatnya menuju jalan Allah SWT. Salah satu ajaran baik yang dibawa oleh Islam adalah larangan untuk berbohong. Islam mengajak setiap umatnya agar mengucapkan perkataan jujur dan sesuai dengan realita yang ada.

Bahkan Nabi Saw pun juga pernah bersabda behwasanya:

Jauhilah kebohongan, sebab kebohongan menggiring kepada keburukan, dan keburukan akan menggiring kepada neraka. Dan sungguh, jika seseorang berbohong dan terbiasa dalam kebohongan, hingga di sisi Allah ia akan ditulis sebagai seorang pembohong.

Betapa beratnya hukuman yang akan kita terima jika dalam menjalani hidup ini diliputi dengan kebohongan. Sebab sikap inilah yang akan membawa kita kepada keburukan.

Namun, tidak jarang kita mendengar bahwa ada beberapa orang yang melakukan kebohongan demi kebaikan. Adakah sebuah kebohongan itu dilakukan untuk kebaikan?

Alasan Orang Berbohong Demi Kebaikan

Orang yang melakukan kebohongan dengan alasan untuk kebaikan biasanya dalam upaya agar tidak menyakiti hati orang lain atau tidak ingin membuatnya tersinggung.

Bahkan seorang psikolog juga pernah mengatakan bahwa berbohong atas dasar kebaikan bisa menjadi hal yang positif ketika kita melakukannya atas dasar berempati. Tetapi kita juga harus menyadari bahwa yang namanya berbohong atas dasar apapun, kebohongan tetaplah kebohongan.

Dari kebohongan yang kita perbuat tentu saja ada konsekuensinya. Misalnya dengan berbohong, kita akan terus-terusan untuk melakukan kebohongan dan hal ini akan semakin menyamarkan realita yang ada. Semakin lama kita menutupi kebenaran, maka saat realita itu terungkap akan semakin menyakitkan. Bahkan dengan berbohong, kita juga akan diliputi dengan rasa bersalah.

3 Kondisi yang Dibolehkan Rasulullah Untuk Berbohong

Di dalam melakukan kebohongan, kita haruslah memperhatikan konteksnya. Karena hal tersebut berdasarkan pada sebuah hadist mengisahkan tentang Ummu Kultsum yang mendengar Rasulullah saw bersabda:

Bukanlah seorang pendusta orang yang berusaha mendamaikan antara seseorang dengan yang lain sehingga tumbuh kebaikan atau ia jadi berkata baik.

Kemudian dari hadist tersebut, Ummu Kultsum pun kembali menjelaskan bahwa dirinya tidak pernah mendengar Rasulullah saw berdusta kecuali saat dalam tiga kondisi sebagai berikut:

  1. Perang

Di dalam suatu peperangan, berbohong diperbolehkan dalam upaya untuk menciptakan strategi yang kuat dalam mengalahkan musuh. Di mana strategi tersebut tidak mungkin diberitahukan pada pihak musuh. Jika sampai musuh mengetahuinya, maka hal ini akan sangat membahayakan. Bukan saja gagal untuk mencapai kemenangan, tetapi akan banyak sekali pengikut kita yang gugur.

  1. Mendamaikan Seseorang dengan Pihak Lain

Jika kita melakukan kebohongan atas dasar ingin menciptakan perdamaian antara dua pihak yang sedang bertikai, maka Rasulullah saw pun memperbolehkan. Tentu saja yang berbohong adalah pihak ketiga.

Misalnya pihak ketiga menyampaikan suatu hal yang baik seolah hal ini berasal dari salah satu pihak yang bertikai untuk disampaikan kepada musuhnya. Atas dasar untuk mendamaikan, maka sikap ini diperbolehkan demi terhindar dari perselisihan.

  1. Bohong Antara Suami dan Istri Untuk Ciptakan Keharmonisan

Di dalam rumah tangga memanglah harus dilandasi dengan kejujuran agar hubungan dapat terbina secara baik. Namun jika kebohongan itu ditujukan untuk menampilkan rasa sayang antara suami dan istri, maka boleh saja dilakukan.

Sedangkan kebohongan menjadi sangat dilarang keras pada suami dan istri jika sudah berkaitan dengan kewajiban keduanya serta dalam melaksanakan perannya di rumah tangga. Karena kebohongan seperti inilah yang nantinya akan menjadi pemicu dari keretakan sebuah hubungan rumah tangga dan disertai dengan kekecewaan yang sangat besar.

Dengan begitu, tanamkan selalu di dalam hati dan pikiran kita bahwa berbohong adalah sikap yang tidak dibenarkan dan mendatangkan dosa besar. Namun, kita juga harus memahami kondisi yang sedang terjadi. Sebagaiman Rasulullah saw memperbolehkan berbohong ketika terjadi suatu peperangan, upaya untuk mendamaikan pihak-pihak yang bertikai, serta kebohongan yang ditujukan antara suami dan istri demi terciptanya keharmonisan rumah tangga.

Widya Resti Oktaviana

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

1 × three =